Temuan Studi Baseline TFCCA Gili Asahan Ungkap Dinamika Sosial-Ekologis dan Tantangan Pengelolaan Terumbu Karang Berbasis Masyarakat

Gili Asahan, Nusa Tenggara Barat – Program Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act (TFCCA) melalui kolaborasi berbagai pihak telah menyelesaikan tahap awal pengumpulan data baseline dalam kegiatan Penguatan Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang Berbasis Masyarakat di Gili Asahan, TWP Gita Nada. Kajian ini menjadi fondasi penting dalam merancang strategi pengelolaan berkelanjutan yang berbasis pada kondisi sosial, ekologi, dan ekonomi masyarakat setempat.

Pengumpulan data baseline ini dilakukan selama seminggu oleh tim tenaga ahli TFCCA yang melibatkan berbagai disiplin ilmu, serta didukung oleh partisipasi aktif mahasiswa dari Teknik Lingkungan UNU NTB, Universitas 45 Mataram, dan Universitas Mataram. Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat kualitas data yang dihasilkan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas generasi muda dalam isu pengelolaan lingkungan pesisir dan laut.

Hasil kajian menunjukkan bahwa dalam satu dekade terakhir, Gili Asahan telah mengalami transformasi signifikan dari desa nelayan tradisional menjadi destinasi wisata berbasis eksklusivitas. Perubahan ini tidak hanya berdampak pada struktur ekonomi masyarakat, tetapi juga mempengaruhi sistem sosial, kelembagaan lokal, serta hubungan masyarakat dengan ekosistem pesisir.

Secara sosial-ekonomi, transformasi ini menunjukkan capaian positif, di antaranya kelembagaan lokal yang semakin kuat, sistem distribusi ekonomi yang relatif lebih adil, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan. Namun demikian, keberlanjutan jangka panjang masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk perlunya penguatan pengelolaan lingkungan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, diversifikasi ekonomi, serta dukungan kebijakan dan infrastruktur, terutama ketersediaan listrik. Belum adanya aliran listrik dari PLN menyebabkan warga harus menyediakan listrik dari genset rumah masing-masing. Secara umum, genset tersebut digunakan untuk mendapatkan aliran listrik dari pukul 18.00 - 22.00 WITA. Selain itu, masyarakat memanfaatkan solar panel mini yang disediakan secara individu.

Dari aspek lingkungan, studi baseline mengidentifikasi persoalan sampah sebagai salah satu tekanan utama terhadap ekosistem pesisir. Sampah laut didominasi oleh plastik dalam berbagai ukuran yang tersebar di beberapa titik pantai, dengan potensi dampak serius terhadap biota laut, kesehatan manusia, serta sektor pariwisata. Selain itu, tim juga mencatat kontribusi sampah non domestik yang signifikan, terutama dari aktivitas pariwisata seperti resort, dengan volume mencapai sekitar 0,27–0,29 m³ per hari per unit. Sementara itu, sampah domestik dari rumah tangga relatif kecil secara individu, namun menjadi signifikan jika terakumulasi secara kolektif.

Dampak dari permasalahan sampah ini mencakup penurunan kualitas lingkungan pesisir, gangguan terhadap ekosistem laut akibat mikroplastik, hingga potensi risiko kesehatan bagi masyarakat. Selain itu, indikasi lemahnya sistem pengelolaan sampah, keterbatasan fasilitas, serta layanan pengangkutan menjadi tantangan tata kelola yang perlu segera ditangani.

Dari aspek lingkungan, sampah laut (marine debris) muncul sebagai isu krusial yang teridentifikasi di seluruh lokasi pengamatan. Sampah laut yang ditemukan mencakup berbagai jenis material padat—terutama plastik dalam ukuran makro, meso, hingga mikro—yang berasal dari aktivitas manusia baik di darat maupun laut. Sebaran sampah yang teramati di beberapa stasiun menunjukkan bahwa plastik merupakan komponen dominan, disertai material lain seperti kaca, logam, kain, dan kayu.

Dari sisi ekologi terumbu karang, hasil pengamatan menunjukkan kondisi yang bervariasi antar lokasi. Secara umum, tutupan karang keras di Gili Asahan mencapai sekitar 55,7%, yang termasuk dalam kategori baik. Namun, tingginya persentase rubble (sekitar 29,8%) mengindikasikan adanya tekanan atau gangguan di masa lalu. Perbandingan antar stasiun menunjukkan bahwa lokasi kontrol memiliki kondisi karang yang lebih sehat, sementara area dekat pemukiman memerlukan perhatian lebih karena indikasi tekanan aktivitas manusia yang lebih tinggi.

Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan pengelolaan berbasis masyarakat yang terintegrasi dengan pengelolaan lingkungan dan aktivitas pariwisata. Upaya menjaga kesehatan terumbu karang tidak hanya bergantung pada konservasi ekologi, tetapi juga pada perubahan perilaku, sistem pengelolaan sampah yang efektif, serta penguatan kapasitas masyarakat lokal.

Melalui baseline ini, Program TFCCA diharapkan dapat merancang intervensi yang tepat sasaran untuk memperkuat keberlanjutan ekosistem terumbu karang sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Gili Asahan. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top