Sosialisasi Kegiatan TFCCA – Penguatan Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang Berbasis Masyarakat di Gili Asahan, TWP GITA NADA

Lombok Barat, 17 April 2026 — Nusa Bio Diversitas Indonesia bersama Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat telah melaksanakan kegiatan sosialisasi bertajuk “Penguatan Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang Berbasis Masyarakat di Gili Asahan, TWP GITA NADA” yang berlangsung di Desa Batu Putih, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat.

Kegiatan ini merupakan langkah awal dalam rangka pelaksanaan program selama 18 bulan ke depan yang bertujuan memperkuat pengelolaan ekosistem pesisir dan laut melalui pendekatan berbasis masyarakat. Program ini juga menjadi bagian dari upaya kolaboratif lintas sektor untuk menjaga keberlanjutan ekosistem terumbu karang sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat lokal.

Kegiatan sosialisasi ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, antara lain perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Barat (UPTD BLUD Balai Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Wilayah Lombok), Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Batu Putih, Sekretaris Desa, Ketua RT Gili Asahan, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas), pelaku usaha pariwisata, serta masyarakat setempat. Kehadiran para pihak ini mencerminkan komitmen bersama dalam mendukung pengelolaan kawasan pesisir yang berkelanjutan.

Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, Pemerintah Desa Batu Putih, dinas terkait, serta masyarakat Gili Asahan menyatakan dukungan penuh dan memberikan izin atas pelaksanaan program. Kesepakatan ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pengelola kawasan, kelompok masyarakat, dan pelaku usaha dalam memastikan keberhasilan kegiatan.

Perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Barat menekankan bahwa Gili Asahan merupakan bagian dari kawasan pengelolaan BLUD UPTD Balai Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Wilayah Pulau Lombok. Oleh karena itu, sinergi antar pihak seperti pengelola kawasan, Pokdarwis, Pokmaswas, dan masyarakat setempat menjadi kunci utama dalam pelaksanaan program.

Ketua Tim Pelaksana Program TFCCA, Lalu Auliya Akraboe Littaqwa, menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi ini merupakan bentuk komitmen awal untuk membangun koordinasi yang kuat dengan pemerintah dan masyarakat setempat. Ia menegaskan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada aspek ekologi, tetapi juga memahami interaksi antara aktivitas daratan, pariwisata, dan tekanan terhadap ekosistem pesisir.

“Kami ingin melihat kondisi eksisting secara menyeluruh, mulai dari timbulan dan komposisi sampah, sebaran sampah laut, hingga keterkaitannya dengan kualitas air dan kondisi terumbu karang. Data ini akan menjadi dasar dalam merumuskan solusi yang tepat dan kontekstual bagi Gili Asahan,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa pendekatan kolaboratif menjadi kunci, dengan melibatkan pengelola kawasan, pemerintah, dan masyarakat dalam setiap tahapan kegiatan.

Sementara itu, perwakilan tim Nusa Bio Diversitas Indonesia, M Said Ramdlan, menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari hibah Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act (TFCCA) Indonesia dan dirancang untuk memberikan dampak jangka panjang. Ia menyampaikan bahwa pendekatan yang digunakan berfokus pada upaya pencegahan melalui pengelolaan aktivitas daratan yang berkontribusi terhadap tekanan di wilayah pesisir dan laut.

“Data yang dihasilkan akan menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan dan pengelolaan kawasan yang lebih berkelanjutan, sekaligus memastikan keterlibatan aktif masyarakat sebagai aktor utama. Selain itu, kami juga melihat potensi pengembangan alternatif mata pencaharian berbasis sumber daya lokal sebagai bagian dari solusi jangka panjang,” ujarnya.

Perwakilan masyarakat Gili Asahan menyoroti tantangan nyata yang dihadapi, khususnya terkait pengelolaan sampah. Kendala utama meliputi tingginya biaya transportasi sampah ke TPA, keterbatasan sarana dan prasarana, serta permasalahan sampah kiriman dari wilayah lain yang mencemari pesisir. Meskipun demikian, kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan telah tumbuh, tercermin dari berbagai inisiatif seperti kegiatan bersih pantai secara mandiri.

Melalui kegiatan ini, diharapkan Gili Asahan dapat menjadi contoh praktik baik pengelolaan ekosistem pesisir berbasis masyarakat yang terintegrasi, adaptif, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat harmoni antara konservasi lingkungan dan pembangunan pariwisata.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top